TEKNIK BEKERJA SECARA ASEPTIK IV ISOLASI JAMUR DARI JARINGAN TANAMAN
TEKNIK BEKERJA SECARA ASEPTIK IV
ISOLASI JAMUR DARI JARINGAN TANAMAN
(Laporaan Praktikum Mikrobiologi Pertanian)
Oleh
Jenita Rahma Aulia
1614121012
Kelompok 3
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam melakukan isolasi di laboratorium diperlukan keterbebasan tubuh pengisolasi dari mikroorgnisme. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya kontaminasi terhadap mikroorganisme yang tidak diinginkan kehadirannya. Isolasi dapat dilakukan dengan menggunakan bakteri, virus, jamur, algae dan lain-lain. Mikroorganisme tersebut membentuk sebuah koloni yang bercampur-campur, sehingga perlu ketelitian untuk memisahkan dari tempat asalnya ke suatu media yang akan menjadi suatu biakan murni yang tunggal. Pemisalahan tersebut, membantu praktikan dalam meneliti suatu mikroorganisme yang bertujuan untuk mengidentifikasikan dan membedakan mikroorganisme yang sedang ditelaah.
Jamur sebagai mahluk hidup yang memerlukan senyawa organik untuk memenuhi nutrisinya. Jamur tidak memiliki klorofil, sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis. Jamur memperoleh makanan dengan cara memakan inang yang ditumpanginya yang berperan sebagai parasit. Jamur parasit menggunakan enzim untuk memecahkan jaringan hidup, yang menyebabkan penyakit pada mahluk hidup yang terinfeksi oleh jamur tersebut. Timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara tanaman inang dengan patogen. Suatu tanaman yang terinfeksi oleh jamur parasit biasanya mengalami perubahan antara lain pada bentuk tanaman, warna, tekstur, ukuran dan sebagainya. Salah satu jamur yang menyebabkan penyakit antraknosa pada tanaman cabai adalah jamur Colletotrichum sp. Penyakit ini menyerang pada bagian buah yang menyebabkan buah cabai membusuk sebelum waktunya, menghambat pertumbuhan perkecambahan pada biji cabai dan dapat menjalar ke bagian daun dan batang.
Penyakit antraknosa pada tanaman cabai dapat diatasi dengan cara pengisolasian pada bagian tanaman yang terkena penyakit. Oleh karena itu, praktikum ini dilakukan guna melatih mahasiswa dalam melakukan isolasi pada jamur khususnya di tanaman cabai dan melatih keterampilan dalam memindahkan jamur dari jaringan tanaman ke suatu media secara aseptik.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Melatih kemampuan mahasiswa dalam melakukan pemindahan jamur dari jaringan tanaman ke wadah lain secara aseptik.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam melakukan isolasi jamur.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannya dalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Krisno, 2011).
Isolasi jaringan adalah proses pengambilan bagian tanaman dari lingkungan asalnya dan menumbuhkan di medium buatan, sehingga diperoleh biakan murni. Dilihat dari praktikum yang kita lakukan sama halnya yang dijelaskan dalam definisi isolasi, kita mengambil tanaman yang mempunyai gejala dan tanda penyakit lalu di isolasi ke media biakan murni, kemudian hasil isolasi tersebut diamati di bawah mikroskop, amati bentuk, warna dan ciri-ciri mikroba tersebut. Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri dan cendawan penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Postulat-postulat tersebut di atas berlaku untuk patogen yang bukan tergolong ke dalam parasit obligat (Epi, 2009).
Fungi (jamur) merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum. Fungi umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan dan reproduksinya. Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Tubuh jamur tersusun atas komponen dasar yang disebut hifa. Hifa merupakan pembentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium yang menyusun jalinan-jalinan semua menjadi tubuh. Bentuk hifa menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa umumnya mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa sinostik. Struktur hifa sinostik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Sebagian besar tubuh fungi terdiri dari atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium. Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi meresap menyerap nutrient dari lingkungan dan miselium fertile yang berfungsi dalam reproduksi. Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri khas yaitu berupa benang tunggal atau bercabang-cabang yang disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen (Dwijoseputro, 2005).
Penyakit antraknosa adalah penyakit yang sering menyerang tanaman cabai. Salah satu penyebab penyakit antraknosa adalah jamur Colletotrichum capsici. Biasanya antraknosa menyerang daun tanaman cabai, namun dapat pula menyerang buah tanaman cabai. Gejala pada daun berupa klorosis dan berupa bercak kecil berwarna putih dan lama-lama tumbuh membesar. Adapun gejala pada buah berupa bercak kecil yang selanjutnya dapat tumbuh lebih besar. Bercak yang terbentuk umumnya melekuk atau agak cekung dan dimulai dari terbentuknya aservulus jamur yang berwarna hitam pada bagian tengah yang biasanya membentuk lingkaran yang berlapis. Serangan antraknosa dapat terjadi kapan saja. Namun, serangan terhebat terjadi ketika curah hujan mulai meninggi, sedangkan saat musim kering, penyakit antraknosa jarang ditemukan. Antraknosa dapat dikendalikan dengan menanam kultivar tanaman cabai rawit yang tahan terhadap penyakit antraknosa (Djafarudin, 2000).
Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba di luar dari lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari lingkungan ini bertujuan untuk memperoleh biakan mikroorganisme yang sudah tidak bercampur lagi dengan mikrobia lainnya dan disebut biakan murni. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada tempatnya. Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain digunakan dalam mengidentifikasi mikroba. Ada bermacam-macam metode isolasi yang dapat digunakan. Macam-macam metode isolasi tersebut antara lain:
1. Isolasi tunggal merupakan metode isolasi dengan cara meneteskan bahan yang mengandung mikroorganisme pada suatu kaca penutup dengan menggunakan mikropipet, yang kemudian diteliti dibawah obyektif mikroskop.
2. Isolasi gores merupakan metode isolasi dengan cara menggeser atau menggoreskan ujung jarum ose yang telah mengandung mikroorganisme dengan hati-hati di atas permukaan agar secara zig zag yang dimulai dari dasar tabung menuju ke bagian atas tabung.
3. Isolasi tebar merupakan metode isolasi dengan cara menebarkan bahan yang mengandung mikroorganisme pada permukaan atas tabung.
4. Isolasi tuang merupakan metode isolasi dengan cara mengambil sedikit sampel.
5. Campuran bakteri yang telah diencerkan dan sampel tersebut, kemudian disebarkan didalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer (Ani, 2002).
III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum isolasi jamur dari jaringan tanaman antara lain pisau, pinset, tanaman yang bergejala (cabai), aquades, klorox (beyclin), jarum ose, cawan petri dan laf.
3.2 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini yaitu disiapkannya alat dan bahan, kemudian masuk ke laminar dengan tangan yang sudah disemprotkan alkohol. Diambil satu buah cabai yang terkena penyakit antraknosa dengan pinset, lalu dibelah, diambil bagian buah cabai yang sehat dan yang sakit dengan perbandingan ¼ : ¼, kemudian pada bagian tersebut dipotong menggunakan pisau. Setelah itu, bagian tersebut direndam di larutan klorox selama 2 menit dan dibilas dengan air sebanyak 2 kali pembilasan. Diusahakan menggunakan air aquades karena sudah terjamin kesterillannya. Pada alat seperti media PDA dan jarum ose disterilkan terlebih dahulu dengan cara dipanaskan dengan bunsen di dalam laminar. Setelah alat-alat tersebut steril, digunakan jarum ose yang dipanaskan tersebut untuk diambilnya jamur pada cabai. Jamur pada cabai tersebut, diletakkan tepat ditengah-tengan media cawan PDA, lalu di wrap untuk mencegah udara dari luar yang masuk.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
|
No |
Pengamatan |
Gambar |
|
1. |
Pada 0 jam, jamur belum terlihat tumbuh. |
|
|
2. |
Pada 24 jam, jamur belum terlihat tumbuh. |
|
|
3. |
Pada 48 jam, jamur tumbuh dan terkontamina dengan bakteri, yaitu terdapatnya lendir disekeliling jamur. |
|
4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini telah dilakukan percobaan isolasi yang menggunakan jamur dari jaringan tanaman yaitu pada tanaman cabai. Dari hasil data pengamatan tersebut, maka dapat diketahui penyebab terjadinya penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Penyakit antraknosa disebabkan oleh adanya jamur Collectotrichum capsici yang hidup sebagai parasit. Umumnya, jamur ini menyerang pada bagian buah tanaman cabai yang menyebabkan buat keriput dan membusuk. Dari hasil percobaan ini, kedua cawan didapatkan hasil pada 0 jam jamur penyebab penyakit antraknosa belum terlihat tumbuh karena pemindahan jamur dari biakan asli ke cawan masih terlalu kecil jarak waktunya. Pada 24 jam, jamur tersebut belum juga terlihat tumbuh. Sekitar 48 jam atau pada hari ke 2, jamur terlihat tumbuh ditengah-tengah cawan dengan ciri-ciri terdapat warna putih tepat pada jamur tersebut ditumbuhkan. Namun, di sekitar jamur terdapat lendir-lendir yang mengelilingi dan memenuhi cawan PDA. Hal tersebut, berarti terjadinya kontaminan antara jamur dengan mikroorganisme lainnya. Tumbuhnya mikroorganisme menyebabkan tercampurnya koloni jamur yang diinginkan dengan mikroba yang tidak diinginkan kehadirannya, sehingga menyulitkan kami untuk membedakan jamur Collectotrichum capsici dengan mikroba yang lain disekitar cawan. Mikroba yang mengkontaminan tersebut adalah bakteri. Kontaminan terjadi karena kesalahan kami, yang mengisolasi dengan cara yang tidak menggunakan teknik aseptik. Jadi, dapat dikatakan percobaan yang kami lakukan terhadap isolasi jamur dari jaringan tumbuhan mengalami kegagalan.
Sama seperti bakteri dan virus, jamur juga termasuk ke dalam mikroba. Meskipun jamur dan bakteri sama-sama dapat dikatakan sebagai mikroba dalam mikrobiologi, tetapi jamur dan bakteri tidak sama dan memiliki perbedaannya masing-masing. Semua organisme hidup diklasifikasikan sebagai prokariota atau eukariota sesuai dengan lokasi DNA yang ada. Sel prokariotik tidak memiliki membran inti dan tempat inti melekat, sedangkan inti eukariotik tertutup dengan membran inti. Menurut klasifikasi ini, bakteri adalah prokariotik dan jamur adalah eukariotik. Namun, bakteri dan jamur memiliki beberapa persamaan, yaitu memiliki karakteristik seperti hidup dan bereproduksi. Kebanyakan dari mereka adalah mikroskopis dan sebagai parasit bagi mahluk hidup yang lain.
Perbedaan utama pada jamur dan bakteri adalah mereka memiliki dandanan selular yang sama sekali berbeda. Bakteri dikatakan organisme prokariotik, yang berarti mereka tidak memiliki nukleus, sedangkan jamur adalah organisme eukariotik di mana mereka memiliki inti didefinisikan dengan baik. Selain itu, bakteri dianggap mikroorganisme uniseluler yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop, sedangkan jamur adalah mikroorganisme yang lebih kompleks kecuali ragi. Kedua organisme memiliki dinding sel tetapi komponen dalam dinding sel yang berbeda. Kebanyakan jamur terdiri dari jaringan tabung berongga panjang disebut hifa. Setiap hifa berbatasan dengan dinding yang kaku biasanya terbuat dari kitin yaitu bahan yang sama yang membentuk eksoskeleton serangga. Hifa tumbuh perpanjangan tips dan bercabang untuk membentuk jaringan padat yang disebut miselium. Sebagai miselium tumbuh, menghasilkan tubuh buah besar dan struktur lainnya yang mengandung spora reproduksi. Sebaliknya, komponen kunci dari dinding sel bakteri disebut peptidoglikan. Sel bakteri juga memiliki membran sel yang mengandung sitoplasma. Bakteri memiliki tiga bentuk dasar di mana dinding sel mempengaruhi bentuk bakteri. Bakteri coccus biasanya bulat, basil berbentuk batang dan spirillum adalah berbentuk spiral. Tetapi, ada beberapa bakteri yang tidak memiliki dinding sel dan tidak memiliki bentuk yang pasti dan mereka disebut sebagai mycoplasma.
Bakteri berkembang biak dengan cara pembelahan biner; yaitu proses di mana setiap bakteri induk membelah menjadi dua sel anak dari ukuran yang sama. Jamur, di sisi lain mampu mereproduksi secara seksual dan aseksual. Mereka berkembang dengan bercabang dan fragmentasi, sedangkan ragi mereplikasi melalui pemula. Reproduksi seksual terjadi ketika sel-sel khusus, gamet, bersatu untuk membentuk spora yang unik. Spora juga dapat diproduksi di ujung hifa secara aseksual. Fragmentasi terjadi ketika sel-sel hifa memisahkan diri untuk membentuk jamur yang berbeda. Sebuah sel jamur tunggal dapat membagi dalam dua untuk membentuk jamur baru dalam proses disebut sebagai pemula.
Mengenai nutrisi mereka, jamur yang dikenal sebagai saprophytes, yaitu, mereka memakan materi membusuk. Ini adalah alasan mengapa jamur biasanya ditemukan di dalam tanah atau air yang mengandung limbah organik. Jamur melepaskan enzim pencernaan yang berbeda yang memecah makanan di luar tubuh mereka untuk memberi makan. jamur kemudian akan menyerap makanan terlarut melalui dinding selnya. Mereka disebut sebagai heterotrophs di mana mereka tidak dapat memproduksi makanan mereka sendiri. Sebagai perbandingan, bakteri dapat menjadi heterotrofik atau autotrophic. Bakteri autotrofik membuat makanan sendiri dari energi cahaya atau kimia. Intinya perbedaan bakteri dan jamur bakteri prokariota, sedangkan jamur adalah eukariota. Bakteri tidak memiliki inti tertutup dengan membran inti, tetapi jamur memiliki inti tertutup. Bakteri tidak memiliki hifa, sedangkan jamur memiliki hifa dan semua bersama-sama membentuk hifa miselium. Dinding sel bakteri terbuat dari murein, yang terdiri dari polisakarida dengan asam amino (peptidoglikan), sedangkan dinding sel jamur terdiri dari kitin yang merupakan nitrogen yang mengandung polisakarida. Sel-sel jamur ini mengandung organel eukariotik, badan golgi, ribosom, vakuola dan retikulum endoplasma yang telah diselimuti dengan satu atau dua membran, sedangkan bakteri hanya beberapa organel yang tidak ditutupi dengan membran. Bakteri dapat terjadi di lingkungan yang ekstrim seperti gunung berapi, laut dalam, basa atau air asam, sementara jamur tidak terjadi di lingkungan yang keras seperti itu. Bakteri yang baik fotoautotrof atau heterotrof, tetapi jamur hanya heterotrof.
Dalam ilmu mikrobiologi, koloni adalah mikroorganisme yang berkambang dari sel tunggal atau kelompok sel yang dapat dilihat dengan mata biasa pada medium setengah padat. Koloni juga dapat diartikan sebagai suatu organism hidup, baik uniselular maupun multiselular dapat berada sebagai individu terpisah atau sebagai agregat (kumpulan) yang bebas satu sama lain. Sebuah koloni hewan mungkin terdiri dari hewan uniselular atau hewan multiselular, namun hewan multiselular bukan sebuah koloni hewan uniselular. Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur juga dapat membentuk suatu koloni. Koloni tersebut biasanya terdiri dari suatu jenis bakteri atau jamur yang berkembang, sehingga disebut koloni tunggal terhadap bakteri atau jamur. Koloni tuggal merupakan salah satu tujuan dilakukan isolasi terhadap suatu mikroorganisme, dengan adanya satu koloni tunggal, maka akan lebih mudah untuk mengidentifikasi dan menganalisis mikroorganisme yang diinginkan. Sekumpulan mikroorganisme yang memiliki kesamaan sifat seperti bentuk, susunan, permukaan, dan sebagainya disebut sebagai koloni. Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh di permukaan medium adalah besar kecilnya koloni. Ada koloni yang hanya berupa satu titik, namun ada pula yang melebar sampai menutup permukaan medium, ada koloni yang bulat dan memanjang, ada yang tepinya rata dan tidak rata pada kenaikan permukaan, ada koloni yang rata dengan permukaan medium, ada pula yang timbul diatas permukaan medium, ada koloni yang permukaannya halus, ada yang permukaannya kasar dan tidak rata, ada koloni yang permukaannya mengkilat dan ada yang permukaannya suram, kebanyakan koloni bakteri atau jamur berwarna keputihan atau kekuningan dan ada koloni yang lunak seperti lender, ada yang keras dan kering.
Penyakit antraknosa adalah penyakit yang disebabkan jamur serangan Colletotrichum capsici (pada cabai). Jamur Colletotrichum capsici ini berkembang pesat pada lingkungan yang lembab dan basah. Kondisi ini tentu lebih banyak ditemui pada saat musim hujan berlangsung. Gejala awal antraknosa pada tanaman cabai cenderung terjadi pada buah yang telah matang. Buah cabai yang matang mengandung karbohidrat pada kadar yang lebih dibandingkan buah yang masih muda. Dimana karbohidrat sangat diperlukan untuk perkembangan cendawan, dengan demikian dapat dipahami apabila perkembangan cendawan pada buah yang banyak mengandung karbohidrat relatif lebih cepat dibandingkan buah muda. Pada buah terdapat tanda bercak melingkar, cekung bewarna coklat pada pusatnya serta bewarna coklat muda pada sekeliling lingkarannya. Pada perkembangannya, bercak tersebut akan meluas kemudian menyebabkan buah membusuk, kering dan jatuh. Penyebaran jamur Colletotrichum capsici dibantu oleh air dan angin, sehingga akan menyebar dengan cepat ke bagian buah yang lain yang belum terinfeksi. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit tanaman cabai ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair. Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Kerja jamur Colletotrichum capsici mula-mula membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Gejala seranganya awal berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah, kemudian menjadi busuk lunak.
Collectotrichum capsici merupakan makhluk hidup dari kerajaan fungi atau jamur. Jamur inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit antraknosa yang sering ditemukan pada beberapa jenis tanaman cabai. Jamur ini merupakan salah satu dari organisme yang mengakibatkan kerusakan pada buah tanaman cabai. Jamur Colletotrichum capsici ini mempunyai ciri morfologi yang struktur tubuhnya sangat kecil dan hidupnya sebagai parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya saja, serta mempunyai habitat yang sangat luas penyebarannya sampai keseluruh bagian tumbuhan). Konidia Colletotrichum capsici berwarna abu-abu keputihan, melengkung seperti bulan sabit dan berakhir meruncing pada kedua ujungnya. Klasifikasi pada jamur Collectotrichum capsici yaitu:
1. Kingdom :Fungi
2. Divisio : Ascomycota
3. Classis : Pyrenomycetes
4. Ordo : Sphaeriales
5. Familia : Polystigmataceae
6. Genus : Collectotrichum
7. Spesies :Collectotrichum capsici
Miselium terdiri dari beberapa septa, inter dan intraseluler hifa. Aservulus berbentuk hemispirakel dengan ukuran 70-120 mikrometer. Seta menyebar, berwarna coklat gelap sampai coklat muda, terdiri dari beberapa septa. Konidiofor tidak bercabang, massa konidia nampak berwarna kemerah-merahan. Konidia berada pada ujung konidiofor. Konidia berbentuk hialin, uniseluler, ukuran 17-18 x 3-4 mikrometer. Konidia dapat berkecambah pada permukaan buah yang hijau atau merah tua. Tabung kecambah akan segera membentuk apresorium. Pertumbuhan awal jamur Colletotrichum capsici membentuk koloni miselium yang berwarna putih dengan miselium yang timbul di permukaan. Kemudian secara perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan akhirnya berbentuk aservulus. Aservulus ditutupi oleh warna merah muda sampai coklat muda yang sebetulnya adalah massa konidia.
V. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil percobaan ini adalah sebagai berikut.
1. Isolasi bertujuan untuk mendapatkan koloni tunggal atau suatu biakan murni.
2. Jamur bersifat eukariyota dan tidak tahan dengan kondisi yang ekstrim, sedangkan bakteri bersifat prokariyota dan tahan dengan kondisi yang ekstrim.
3. Penyakit antraknosa pada tanaman cabai disebabkan oleh Collectotrichum capsici yang membuat buah pada tanaman cabai menjadi busuk dan berair.
4. Jamur yang diisolasi mengalami kontamina dengan bakteri, sehingga percobaan ini gagal karena tidak bekerja secara aseptik.
5. Collectotrichum capsici tumbuh setelah 2hari melakukan isolasi pada media PDA. Jamur ini tumbuh dnegan memperlihatkan warna putih pada bagian tempat dimana jamur ini diletakkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ani, M. 2002. Buku Penuntun Praktikum Mikrobiologi. ITB. Bogor.
Djafarudin. 2000. Antraknosa pada Cabai. Gramedia. Jakarta.
Dwijoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
Epi. 2009. Teknik Isolasi. UGM Press. Yogyakarta.
Krisno. 2011. Peranan Mikroba. Erlangga. Jakarta.
LAMPIRAN
Komentar
Posting Komentar