PENYIAPAN DAN PEMBUATAN MEDIA (PDA, NA DAN KING’S B)

 

 

 

 

 

 

 

PENYIAPAN DAN PEMBUATAN MEDIA (PDA, NA DAN KING’S B)

(Laporan Praktikum Mikrobiologi Pertanian)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

Jenita Rahma Aulia

1614121012

Kelompok 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

 

 

 

 

 

 

I.   PENDAHULUAN

 

 

 

 

1.1    Latar Belakang

 

 

Semua mahluk hidup memerlukan nutrisi yang berguna untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan.  Begitu pula dengan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan berkembang, sehingga dapat memperbanyak populasinya.  Mikroorganisme dapat berkembang biak secara alami atau pun dibantu oleh manusia.  Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media.  Media berfungsi sebagai tempat tinggal, sumber makanan dan penyedia nutrisi bagi mikroorganisme yang akan dibiakan pada media, selain itu media juga berfungsi untuk mengasingkan, mengirimkan dan meyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama di laboratorium.

 

Media yang digunakan untuk perkembangan bakteri bermacam-macam, ada yang berdasarkan komposisinya, tekstur dan kegunaannya.  Berdasarkan komposisinya, terdapat media alami yang tersedia di alam, tetapi takarannya tidak diketahui, seperti nasi, biji, susu dan lain-lain.  Media sintetik dan media semi-sintetik tidak terdapat di alam dan sengaja dibuat, tetapi pada semi-sintetik hanya sebagian saja yang komposisinya terdiri dari bahan alami, sedangkan yang lainnya tidak.  Terdapat tiga media berdasarkan teksturnya, yaitu cair yang pada proses pembuatannya tidak ditambahkan bahan padat, media padat yang proses pembuatannya ditambahkan bahan padat dan media semi-padat yang hanya sebagian saja ditambahkan bahan padat.  Berdasarkan kegunaanya, terdapat empat jenis, yaitu media umum yang dapat ditumbuhi oleh semua jenis mikroorganisme, media selektif yang hanya dapat menumbuhkan satu mikroorganisme yang diinginkan, media diferensial yang ditumbuhkan berbagai mikroorganisme, tetapi mikroorganisme yang diinginkan dapat dibedakan serta media pengaya yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme tertentu.

 

Dalam percobaan ini digunakan media PDA, NA dan Kings’s B untuk tempat tumbuh dan sebagai sumber nutrisi.  Sumber nutrisi yang dipakai berupa senyawa sederhana yang tersedia secara langsung baik berupa cairan maupun setengah padat.  Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan untuk membuat medium yang akan digunakan secara umum dan menggunakan alat untuk mensterilkan bahan dan alat.

 

 

1.2    Tujuan

 

 

Adapun tujuan yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.

1.    Mengetahui macam-macam media dan memahami cara pembuatan medium yang paling banyak atau umum digunakan.

2.    Memahami cara menggunakan alat untuk mensterilkan bahan dan alat.

3.    Mengetahui pembuatan media King’s B agar, NA dan PDA.

4.    Melatih keterampilan mahasiswa dalam melakukan pembuatan media King’s B agar, NA dan PDA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.     TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

 

Media adalah substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungannya.  Kehidupan mikroorganisme tergantung pada nutrisi dalam substrat atau medium dan faktor lingkungan yang baik.  Mikroba dapat tumbuh dengan baik jika dalam suatu medium tersebut memenuhi syarat-syarat, yaitu harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan mikroba.  Media dibedakan menjadi dua menurut komposisi kimiawinya yaitu medium sintetik dan medium non-sintetik atau kompleks.  Medium sintetik dibuat dari bahan kimia dengan kemurnian tinggi dan ditentukan dengan tepat, sedangkan medium non-sintetik tidak dapat diketahui dengan pasti (Hadioetomo, 2010).

 

PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan media yang sangat umum yang digunakan untuk mengembangbiakkan dan menumbuhkan jamur dan khamir.  Komposisi Potato Dextrose Agar ini terdiri dari bubuk kentang, dextrose dan juga agar.  Bubuk kentang dan juga dextrose merupakan sumber makanan untuk jamur dan khamir.  Potato Dextrose Agar juga bisa digunakan untuk menghitung jumlah mikroorganisme menggunakan metode Total Plate Count.  Perindustrian seperti industri makanan, industri produk susu dan juga kosmetik menggunakan PDA untuk menghitung jumlah mikroorganisme pada sample mereka, karena fungsinya yang dapat mengembangbiakkan jamur, sekarang ini PDA juga banyak digunakan oleh pembudidayan jamur seperti jamur tiram.  Untuk memaksimalkan pertumbuhan bibit jamur, biasanya pembudidaya mengatur kondisi pH yang rendah (sekitar 3,5) dan juga menambahkan asam atau antibiotik untuk menghambat terjadinya pertumbuhan bakteri (Sugianto, 2012).

Nutrient Agar (NA) merupakan suatu medium yang berbentuk padat, yang merupakan perpaduan antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa kimia.  NA dibuat dari campuran ekstrak daging dan peptone dengan menggunakan agar sebagai pemadat.  Dalam hal ini agar digunakan sebagai pemadat, karena sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat yang berupa galaktam, sehingga tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme.  Dalam hal ini ekstrak beef dan pepton digunakan sebagai bahan dasar karena merupakan sumber protein, nitrogen, vitamin serta karbohidrat yang sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Medium Nutrient Agar (NA) merupakan medium yang berwarna coklat muda yang memiliki konsistensi yang padat dimana mediu mini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai medium untuk menumbuhkan bakteri.  Nutrient Broth (NB) adalah medium yang berbentuk cair dengan bahan dasar adalah ekstrak beef dan peptone.  Perbedaan konsentrasi antara Nutrient Agar dengan Nutrient Broth yaitu nutrient agar berbentuk padat dan Nutrient Broth berbentuk cair.  Susunan kimia sama-sama sintetik.  Fungsi kimia dari nutrient agar dan nutrient broth sebagai medium umum.  Medium Nutrient Broth (NB) merupakan medium yang berwarna coklat yang memiliki konsistensi yang cair dimana medium ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai medium untuk menumbuhkan bakteri sama seperti medium NA (Indra, 2008).

 

King’s B adalah media non-selektif dan digunakan untuk subkultur diduga isolat.  Selain antibiotik, seperti cephalexine akan membuat media (King’s B) cocok untuk deteksi beberapa Pseudomonad seperti Pseudomonas syringae pv, syringae pv dan Pseudomonas savastonoi.  Media King’s B digunakan untuk deteksi dan subkultur dari Pseudomonas fluorescent dari biji dan tanaman.  Pathovars Pseudomonas syringae menghasilkan pigmen neon biru yang menjadi terlihat di bawah UV light.  King’s B memberikan jumlah tertinggi unit pembentuk koloni, dan di beberapa lingkungan.  Media ini digunakan untuk mendeteksi fluorescens bakteri di air, khusus untuk Pseudomonas fluorescens dalam air minum.  Pergantian fosfat hidrogen di-kalium dengan fosfat kalium tri-3-hidrat mencegah penurunan pH setelahdi autoklaf dan penurunan yang dihasilkan dalam produksi fluorescein. King’s B atau raja agar B memungkinkan produksi fluoresceine (pyverdin), pigmen kuning-hijau yang berfluoresensi di bawah sinar ultraviolet dalam strain tertentu pseudomonas.  Media yang digunakan terutama dalam analisis air untuk deteksi dan diferensiasi Pseudomonas aeruginusa, yang menghasilkan pigmen karakteristik sementara spesies lain dari Pseudomonas.  Spesies-spesies Pseudomonad fluorescens ditandai oleh kemampuannya dalam mengekskresi pigmen-pigmen hijau-kuning yang larut dan fluorescens di bawah sinar UV.  Pigmen-pigmen ini terutama dihasilkan dalam media yang defisien dalam besi atau media khusus (King’s B).  Beberapa spesies Pseudomonad fluorescens juga menghasilkan pigmen-pigmen phenazine biru, hijau atau orange yang khas terutama dalam media King’s A (Pujiati, 2012).

 

Macam-macam media berdasarkan sifat, komposisi dan tujuannya, yaitu sebagai berikut.

1.    Medium berdasarkan sifat fisik

a.    Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat.

b.    Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair.  Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur.  Semi solid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.

c.    Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).

 

 

2.    Medium berdasarkan komposisi

a.    Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.

b.    Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang.  Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.

c.    Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.

3.    Medium berdasarkan tujuan untuk isolasi.

a.    Media selektif/penghambat, yaitu media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu, sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan.

b.    Media diferensial yaitu media yang bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasarkan karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.

c.    Media umum digunakan secara umum yang dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis mikroorganisme baik bakteri maupun jamur, misalnya PDA, NA dan lain-lain.

d.   Media pengaya adalah media yang ditambah zat-zat tertentu, misalnya serum, darah, ekstrak dan tumbuhan, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu.  Misalnya, medium buatan loeffler ditambah serum (memiara basil difteri), medium ditambah air tomat untuk menumbuhkan Lactobacillus ( Putri, 2010).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.      METODOLOGI

 

 

 

 

3.1    Alat dan Bahan

 

 

Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain tabung erlenmeyer, timbangan, kompor, tabung reaksi, pisau, otoklaf, kapas, gelas ukur, batang pengaduk, gelas beaker dan bahan yang digunakan adalah agar batangan 2 gram, kentang 20 gram, dekstrosa 2 gram, aquadest 100 ml sampai 1000 ml, nutrient bort 2,8 gram, protease peptone 5 gram, glyserol 1 ml, K2HPO4 0,15 gram serta MgSO47H2O 0,15 gram.

 

 

3.2    Prosedur Kerja

 

 

Prosedur percobaan dalam praktikum ini terdiri dari tiga macam proses pembuatan media, yaitu media PDA, NA dan King’s B. Pada langkah yang pertama dalam pembuatan media PDA yaitu disiapkan kentang, lalu kentang ditimbang seberat 20 gram, kemudian kentang dipotong dalam bentuk dadu-dadu kecil.  Setelah itu, direbus sampai lunak dan disaring, lalu diambil ekstraknya.  Disiapkan gula sebanyak 2 gram dan agar 2 gram, kemudian gula dan agar dituangkan ke dalam botol UC 1000, diaduk lalu dihomogenkan.  Selanjutnya, ekstrak kentang yang diambil dimasukkan ke dalam botol tersebut, diratakan dengan batang pengaduk, lalu ditutup dengan kertas alumunium foil dan diikat. 

 

Selanjutnya adalah pembuatan media NA yang diawali dengan ditimbangnya nutrient bort sebesar 2,8 gram.  Kemudian, nutrient bort dimasukkan ke dalam botol dan dicampurkan dengan air.  Ditambahkan agar 2 gram, diaduk sampai homogen, lalu ditutup dengan kertas alumunium foil dan diikat dengan karet gelang.

 

Proses yang ketiga adalah pembuatan media King’s B dengan cara ditambahkan agar 5 gram, aquadest 100 ml, protease pepton 5 gram, glyserol 1 ml, K2HPO4 0,15 gram serta MgSO47H2O 0,15 gram ke dalam botol, kemuadian dihomogenkan dan diaduk, lalu ditutup dengan kertas alumunium foil dan diikat.  Media tersebut disterilkan ke dalam otoklaf selama satu jam dengan suhu 121 C.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

 

 

4.1    Hasil Pengamatan

 

 

Adapun data hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.

No

Gambar

Keterangan

1

 

Media PDA

2

 

Media NA

3

 

Media King’s B

4.2    Pembahasan

 

 

Media PDA, NA dan King’s B yang dibuat dalam percobaan ini masing-masing memiliki kegunaan.  Media PDA digunakan untuk membiakkan suatu mikroorganisme, baik itu berupa cendawan atau fungi, bakteri, maupun sel mahluk hidup.  Media PDA merupakan jenis media biakan dan memiliki bentuk maupun konsistensi padat (solid).  Media Potato Dextrose agar (PDA) berfungsi sebagai media kapang (jamur) dan khamir serta untuk menghitung jumlah mikroorganisme menggunakan metode Total Plate Count.  Dalam mikrobiologi, media PDA (Potato Dextrose Agar) digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang dan dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan.  PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir, tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri.  Media Potato Dextrose Agar (PDA) memiliki fungsi secara umum, yaitu untuk menjadi media pertumbuhan atau pembiakan mikroorganisme jenis jamur.  Karakteristik media PDA ini sendiri dapat dilihat dari jenis, konsistensi, warna, sifat media, dan pH, serta ciri khusus lainnya.  Media NA digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof.  Dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.  Media King’s B adalah media non-selektif dan digunakan untuk subkultur diduga isolat.  Selain antibiotik, seperti cephalexine akan membuat media ini cocok untuk mendeteksi beberapa Pseudomonad seperti Pseudomonas syringae pv, Syringae pv dan Pseudomonas savastonoi.  Biasanya media King’s B digunakan untuk deteksi dan subkultur dari Pseudomonas fluorescent dari biji dan tanaman.  Pathovars Pseudomonas syringae menghasilkan pigmen neon biru yang menjadi terlihat di bawah sinar UV.  King’s B memberikan jumlah tertinggi unit pembentuk koloni, dan di beberapa lingkungan.

Media untuk kultur bakteri dalam mikrobiologi ada banyak jenisnya dan dapat menjadi tiga kelompok besar berdasarkan bentuk, komposisi atau susunannya dan fungsinya:

1.    Berdasarkan Bentuknya

Bentuk media ada tiga macam yang dapat dibedakan dari ada atau tidaknya bahan tambahan berupa bahan pemadat seperti agar-agar atau gelatin.  Bentuk media tersebut yaitu:

·      Media padat merupakan media yang mengandung banyak agar atau zat pemadat kurang lebih 15% agar, sehingga media menjadi padat.  Media ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis menurut bentuk dan wadahnya yaitu, media tegak, media miring, dan media lempeng.  Media tegak menggunakan tabung reaksi yang ditegakkan sebagai wadahnya, media miring menggunakan tabung reaksi yang dimiringkan, sedangkan media lempeng menggunakan petridish (plate) sebagai wadahnya.  Media ini umumnya digunakan untuk pertumbuhan koloni bakteri atau kapang.

·      Media semi padat atau semi cair merupakan media yang mengandung agar kurang dari yang seharusnya kurang lebih 0,3% - 0,4%, sehingga media menjadi kenyal, tidak padat dan tidak begitu cair.  Umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan air dan hidup anerobik dan untuk melihat pergerakan mikroba.  Misalnya, pada media NFB (nitrogen free bromotymol blue).

·      Media cair merupakan media yang tidak ditambahi bahan pemadat, umumnya digunakan untuk pertumbuhan mikroalga.  Misalnya NB (nutrient broth), LB (lactose broth).

 

2.    Berdasarkan Komposisi atau susunannya

·      Media alami atau non sintetis merupakan media yang disusun dari bahan-bahan alami dimana komposisinya yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, seperti kentang, tepung, daging, telur, ikan sayur dan lain-lain.

·      Media semi sintesis merupakan media yang disusun dari bahan-bahan alami dan bahan-bahan sintesis.  Contohnya, PDA (potato dextrose agar) yang mengandung agar, deztrosa dan ekstrak kentang.

·      Media sintesis, yaitu media yang disusun dari senyawa kimia yang jenis dan takarannya diketahui secara pasti.  Contohnya, Mac Conkey Agar.

 

3.    Berdasarkan fungsinya

·      Media basal (media dasar) adalah media yang digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat media lain yang lebih kompleks.  Media ini dapat mendukung pertumbuhan hampir semua jenis mikrobia, contohnya nutrient broth, kaldu pepton dan lain-lain.

·      Media diferensial adalah media yang bila ditumbuhi oleh mikroba yang berbeda, mikroba tersebut akan tumbuh dengan ciri khusus, sehingga dapat dibedakan.  Contohnya, Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Media Sulfit Indol Motility (SIM) dan sebagainya.

·      Media selektif adalah media yang memungkinkan suatu jenis mikroba tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikroba yang lain terhambat.  Contohnya, media Salmonella Shigella Agar (SSA) dan Thiosulphate Citrate Bile Salt (TCBS)

·      Media diperkaya (enrichment) adalah media yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme.  Media tersebut memiliki konstituen nutrisi yang mendorong pertumbuhan mikroba tertentu.  Contohnya, kaldu selenit atau kaldu tetrationat untuk memisahkan bakteri Salmonella thyposa dari tinja.

·      Media uji adalah media yang digunakan untuk identifikasi mikroba, umumnya ditambah dengan substansi tertentu yang menjadi indikator, misalnya medium litmus milk.

 

Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.  Media alami memiliki kelebihan unsur-unsur dalam penyusunannya.  Media ini didapatkan dengan mudah karena tersedia melimpah ruah di bumi.  Akan tetapi, media ini juga memiliki kelemahan, yaitu jenis dan takarannya tidak dapat diketahui dengan jelas, sehingga jika menggunakan media ini cukup kesulitan untuk mengetahui takaran yang cocok untuk sebuah mikroba.  Media sintetik memiliki kelebihan, yaitu jenis atau takarannya dapat diketahui secara pasti, namun media ini tidak tersedia secara langsung di alam, sehingga dibutuhkan proses terlebih dahulu untuk membuat media ini.  Media semi sintetik adalah media yang sebagian komposisinya dapat diketahui secara pasti.  Media ini berupa PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang.  Kelebihan media ini yaitu dapat digunakan untuk menumbuhkan beberapa jenis mikroorganisnme, seperti jamur dan bakteri.  Selain itu, media ini terdiri dari bahan-bahan yang mempunyai kelebihan dibandingkan media yang lain, yaitu memiliki kandungan yang menjadi sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin dan dekstrosa sebagai sumber karbon nitrogen organik.  Dari kelebihan kandungan tersebut, media ini sangat mudah digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme.  Akan tetapi, kandungan yang terdapat di media PDA tidak semuanya tersedia di alam, sehingga kekurangan dari media ini terletak pada bahan-bahan yang tidak dapat digunakan secara instan.

 

Pada media umum, kelebihan yang dimiliki adalah media ini dapat digunakan secara umum, artinya dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis mikroorganisme baik bakteri maupun jamur.  Media ini juga digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat media lain yang lebih kompleks.  Kekurangan dari media ini adalah sulitnya untuk membedakan mikroorganisme yang diinginkan dengan mikroorganisme yang lain.  Contoh dari media ini adalah PDA dan NA.  Kelebihan dari media NA yaitu dapat menumbuhkan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof.  Media NA menjadi media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.  Media ini tersusun dari ekstrak beef dan pepton, oleh karena itu untuk mendapatkan susunannya diperlukan pembuatan melalui proses.  Hal ini menjadi kekurangan pada media NA, karena bahan seperti ekstrak beef dan pepton tidak tersedia secara langsung di alam.

Media selektif memiliki kelebihan yang memudahkan praktikan karena hanya ada satu mikroorganisme yang dapat tumbuh di media ini atau hanya kelompok tertentu saja, sehingga hanya menumbuhkan mikroorganisme yang diinginkan.  Kekurangan dari media ini adalah media ini hanya mampu menumbuhkan satu jenis mikroorganisme, sehingga dalam pemakaiannya dibutuhkan pembuatan berkali kali ketika gagal.  Kelebihan dari media diferensial hampir sama dengan media selektif, tetapi media diferensial dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis dari mikroorganisme hanya saja ada ciri khas tertentu yang dapat membedakan mikroorganisme yang lain dengan yang diinginkan, sehingga dapat dipisahkan.  Kelemahan dari media ini adalah adanya peluang untuk terjadi kontaminasi antara mikroorganisme yang diinginkan dengan mikroorganisme yang lain.  Media pengaya memiliki kelebihan lebih cepat menumbuhkan mikroorganisme yang diinginkan dari pada kelompok mikroorganisme lainnya, namun media ini membutukan ketelitian yang lebih untuk penggunaannya.

 

Media King’s B memiliki kelebihan untuk mendeteksi fluorescens bakteri di air, khusus untuk Pseudomonas fluorescens dalam air minum.  Pergantian fosfat hidrogen di kalium dengan fosfat kalium tri-3-hidrat mencegah penurunan pH setelah di autoklaf dan penurunan yang dihasilkan dalam produksi fluorescein. King’s B atau raja agar B memungkinkan produksi fluoresceine (pyverdin), pigmen kuning-hijau yang berfluoresensi di bawah sinar ultraviolet dalam strain tertentu pseudomonas.  Media yang digunakan terutama dalam analisis air untuk deteksi dan diferensiasi Pseudomonas aeruginusa yang menghasilkan pigmen karakteristik, sementara spesies lain dari Pseudomonas.  Kekurangan dari media ini yaitu media ini hanya dapat digunakan untuk bakteri Pseudomonas.

 

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media memiliki kegunaan atau fungsi yang mendukung media tersebut terbentuk.  Agar batangan memiliki kegunaan sebagai bahan pemadat medium, kentang berfungsi sebagai nutrien nitrogen organik, karbon dan vitamin, dekstrosa sebagai sumber karbon dan sumber nutrient yang spesifik untuk mikroba jamur, aquadest sebagai sumber nutrien mikroba dan pelarut medium, protase pepton dapat digunakan untuk sumber nutrient yang spesifik untuk mikroba bakteri.  Selain itu, terdapat bahan glyserol untuk sumber energi dan meningkatkan pyocyanin yaitu pigmen yang diproduksi khusus oleh Pseudomonas aeruginosa, K2HPO4 sebagai sumber fosfat dan MgSO47H2O untuk sumber S yang berperan dalam stabilisasi ribosom.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V.     KESIMPULAN

 

 

 

 

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut.

1.        Mikroorganisme membutuhkan nutrisi yang berupa senyawa sederhana langsung atau berasal dari senyawa kompleks.

2.        Fungsi medium (NA) berdasarkan susunan kimianya merupakan medium non sintetik atau semi ilmiah, berdasarkan konsistennya merupakan medium padat, untuk menumbuhkan bakteri.

3.        Media King’s B hanya digunakan untuk mendeteksi fluorescens bakteri di air, khusus untuk Pseudomonas fluorescens dalam air minum.

4.        Media PDA merupakan media umum dan media semi sintetik yang dapat ditumbuhi oleh berbagai macam mikroorganisme baik bakteri maupun jamur.

5.        Persamaan ketiga media PDA, NA dan King’s B yaitu pada proses pembuatannya yang ditambahkan agar sebanyak 2 gram.

6.        Nutrient Agar (NA) dan Nutrient Broth (NB) digunakan sebagai tempat tumbuhnya bakteri, sedangkan Potato Dextrose Agar (PDA) sebagai media tumbuhnya jamur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Hadioetomo. 2010. Mikrobiologi Dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.

 

Indra. 2008. Media Pertumbuhan. IPB. Bogor.

 

Pujiati. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. Ikip PGRI Madium Press. Madium.

 

Putri, S. 2010. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga. Jakarta

 

Sugianto. 2012. Pembuatan Medium. UGM. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGENCERAN BERSERI DAN PENGHITUNGAN MIKROBA SECARA TIDAK LANGSUNG DENGAN METODE SEBAR (HITUNGAN CAWAN)

PENGENCERAN BERSERI DAN PENGHITUNGAN MIKROBA SECARA LANGSUNG DENGAN ALAT HEMOSITOMETER (HAEMOCYTOMETER) DAN PENGUKURAN MIKROBA (SPORA ATAU SEL BAKTERI)